5
Tipe Manusia Berdasarkan Sikapnya Terhadap Ilmu
Pepatah mengatakan, "rambut sama hitam, tapi isi kepala siapa tahu?". Kalimat itu bermakna bahwa setiap orang boleh saja sama penampakan luarnya, namun pemikirannya (dan sikapnya) belum tentu sama. Termasuk terhadap ilmu. Adalah Rasulullah SAW yang memberikan arahan 'alternatif' pemikiran dan penyikapan terhadap ilmu. Beliau SAW bersabda, "Jadilah kalian orang yang berilmu ('aliman), atau (setidaknya) jadilah penuntut ilmu (muta'aliman, active learning), atau (setidaknya) jadilah pendengar ilmu (mustami'an, passive learning), atau (setidaknya) jadilah pendukung aktivitas keilmuan (muhibban), dan jangan jadi yang kelima (yaitu yang bukan keempat kriteria di atas), maka kalian akan binasa.". Dan berdasarkan itulah bisa 'dipetakan' tipe-tipe manusia berdasarkan sikapnya terhadap ilmu, sebagai berikut:
1. 'Aliman
orang
yang berilmu. Ini adalah tipe yang utama. Orang yang berilmu adalah orang yang
menguasai ilmu dan karenanya bijaksana. Mereka bukan sekadar mengetahui ilmu,
tapi memahami ilmu. Mereka bukan manusia teori, tapi bisa memanfaatkan ilmunya
untuk kemaslahatan ummat. Mereka bukan "penimbun" ilmu, melainkan
"penyalur" ilmu: ilmu mereka banyak dan terus bertambah, tapi
sekaligus mereka mengamalkan ilmunya (mengajar termasuk di dalamnya). Mereka
adalah orang-orang yang tenang hati dan fikirannya karena ilmu pengetahuannya.
Merekalah yang memiliki modal (dan paling layak dan mampu) untuk mengelola alam
semesta ini (khalifah). Orang-orang 'aliman inilah yang layak mendapatkan
kemuliaan di sisi Allah SWT dan RasulNya. Sayangnya, jumlah mereka minoritas.
2. Muta'aliman
para
pembelajar. Mereka adalah orang-orang yang aktif menuntut ilmu. Mereka gemar
belajar apa saja, di mana saja, kapan saja, dan pada siapa saja. Mereka
orang-orang yang haus ilmu. Mereka punya jadwal rutin kunjungi forum-forum
keilmuan. Mereka seolah tak pernah ketinggalan update informasi berbagai
kegiatan kajian ilmu. Mereka tidak memiliki kebosanan terhadap buku dan
membaca. Mereka memiliki kesadaran bahwa mereka masih kekurangan ilmu dan
mereka juga tahu akan keutamaan dan manfaatnya jadi orang 'alim, maka itu
mereka bersemangat menuntut ilmu. Namun mereka baru taraf menguasai teori. Jika
ditanya suatu persoalan, maka mereka mampu menjawabnya secara letterlijk.
Mereka mengetahui ilmu, namun belum sampai pada tahap memahami dan mengamalkan.
Kelak mereka akan menjadi 'aliman, jika terus belajar dan mengamalkan.
3. Mustami'an
para
penyimak ilmu. Mereka adalah pembelajar yang pasif. Mereka senang bila diajak
ikutan kajian-kajian ilmu. Mereka akan tekun mendengarkan uraian-uraian tentang
ilmu. Mereka senang dan bangga jika bisa hadir di forum-forum ilmu, walau
mereka tidak terlalu aktif di forum tersebut. Hanya sekadar menyimak. Istilah
Betawi untuk ini adaah 'jiping', kependekan dari 'ngaju nguping'. Maksudnya
datang ke pengajian hanya bermodalkan kuping untuk mendengarkan uraian tentang
ilmu. Mereka senang berkumpul beramai-ramai di forum kajian ilmu. Senang guyub.
Romantika kelompok. Adapun ilmu yang bisa diserap, dipahami, dan diamalkan,
belum terlalu banyak. Mereka aktif jika bersama-sama. Belum ada motivasi
pribadi yang kuat. Tapi ini masih lumayan.
4. Muhibban
para
pendukung pembelajar dan aktivitas keilmuan. Bahasa lainnya: simpatisan. Mereka
mencintai para pembelajar. Mereka mencintai forum-forum kajian keilmuan. Mereka
akan mensupportnya. Mereka lebih senang menjadi (sekadar) fasilitator. Uniknya,
mereka justru belum tertarik untuk ikut langsung berpartisipasi aktif di dalam
kajian-kajian ilmu, walaupun hanya sekadar mendengarkan (mustami'an). Mereka
hanya senang menjadi pendukung saja. Bahkan mereka akan memberikan perlindungan
kepada aktivitas keilmuan dari kemungkinan gangguan. Entah apa yang masih
menghalangi hatinya untuk tergerak melibatkan diri secara full menuju tingkat
'aliman. Namun rasa cinta dan dukungan mereka sangat patut diapresiasi secara
positif. Mereka orang-orang baik yang perlu diajak untuk lebih mengembangkan
kebaikan-kebaiknnya.
5. Golongan kelima adalah Orang-orang yang membeci Ilmu dan
menjauhinya
dari 4 golongan di atas.
Rasulullah SAW tidak memberikan terminologi untuk menyebut golongan kelima ini.
Beliau hanya menyebut singkat apa akibatnya, yaitu "maka kamu akan
binasa". Ini sudah cukup mewakili betapa buruk golongan kelima ini karena
dikatakan 'akan binasa'. Binasa adalah suatu kondisi di mana sesuatu itu rusak
parah atau hancur lebur. Selain keempat golongan di atas, memang bisa kita
identifikasi sebagai para penolak ilmu, penghina para pembelajar, dan
penghalang aktivitas keilmuan. Perbuatan mereka tidak berlandaskan ilmu, hanya
berdasarkan hawa nafsu belaka. Mereka menolak perbuatan-perbuatan baik yang
lahir dari rahim ilmu. Mereka bahkan berupaya mencegahnya. Golongan ini adalah
golongan yang rusak fikir dan rusak akhlaq atau setidaknya mereka adalah kaum
bodoh yang apatis. Pantas jika mereka disebut 'akan binasa'. Binasa di sini
bisa secara fisik, maupun secara pemikiran dan budaya. Rasulullah SAW
meminta kita agar jangan menjadi golongan ini. Jika boleh digambarkan, maka
mungkin diagram berikut bisa mewakili kelima golongan di atas: Pertanyaan untuk
diri sendiri: di golongan manakah diri
kita? Selamat merenung..."Ingat bagikanlah kebahagian dengan menyebarkan senyuman kepada orang lain"
Contoh lihatlah Vidio ini



Komentar
Posting Komentar